Senin, 17 Oktober 2016

Paksaan Ketentuan dan Pilihan



Nama: Eka F. P. Adhitiah
NIM: 1501015036
6 September 2016
Paksaan Ketentuan dan Pilihan

Salah satu tahap yang juga merupakan tahap teratas bagi kebutuhan dasar hidup manusia dalam hirarki Abraham Maslow adalah kemampuan mengaktualisasikan diri. Dan manurut saya kemampuan menentukan cita dan tujuan hidup pasti ada di dalamnya.
Beberapa waktu lalu saya dan beberpa teman menonton film berjudul “DEAD POETS SOCIETY” film itu menceritakan tentang kehidupan sosial remaja putra yang disempitkan ke dalam sebuah lingkungan sekolah.
Gejolak-gejolak remaja begitu terasa digambarkan di sana. Ketika bagaimana akhirnya pilihan baru untuk menjalani hidup muncul. Neil dan kawan-kawan di ceritakan sebagai siswa dari sebuah SLTA bergengengsi, yang sehari harinya hidup dengan aturan-aturan mengikat serta sugesti keluarga bahwa itu adalah jalan terbaik untuk mencapai hidup yang bahagia.
Sampai suatu ketika datang seorang guru sastra inggris yang oleh mereka di sapa Mr. Keating. Sesuatu yang aneh namun tampak menyenangkan mereka temukan dalam lagak dan keseharian Mr. Keating. Sehingga hasrat kebebasan, dorongan mencoba hal baru, serta kecenderungan remaja putra seusia merekapun muncul dan timbul semakin kuat.
Hari-hari berlalu dan beberapa tindakan yang akhirnya di lakukan Neil dan kawan-kawanpun mendatangkan masalah. Baik gesekan internal dari dalam diri sendiri tentang keinginan hati dan beban kepercayaan orangtua, serta  eksternal dari paksaan keluarga juga aturan sekolah.
Masalah semacam ini sebenarnya sangat ramah dan dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Seperti jika berkaca pada tokoh Neil di film itu. Ia berminat dan memiliki bakat di dunia bermain peran tetapi di paksa menjadi dokter dan tidak memiliki keberanian mengkomunikasikan secara positif penolakannya dengan orangtua. Sehingga merasa hidupnya tak di beri pilihan.
Pada masa-masa seperti inilah remaja mengalami yang namanya krisis identitas, dimana individu mengalami kebingungan dalam mentukan cita-cita dan tujuan hidupnya. Saya pribadi adalah salah satu orang yang merasa begitu kecewa dan prihatin ketika ada anak seumuran 16-18 tahun atau pada tahap remaja akhir tetapi masih tidak tau cita-citanya apa.
Ada tiga hal yang paling berpengaruh terhadap krisis identitas, antara lain bagaimana individu itu dibesarkan, apa yang sering ia perhatikan, dan nilai-nilai yang sering ia terima. Ya kurang lebih lingkungan sangatlah mempengaruhi seseorang. Namun kembali lagi, pada dasarnya manusia memiliki kemampuan beraktualisasi dan sebagai bentuknya harusnya ia mampu memaknai lingkungan dengan tepat, dibantu oleh manusia-manusai dewasa di sekitarnya khusunya orangtua.
Krisis identitaspun juga dapat terjadi akibat gagal pahamnya individu mengenai urgensi antara bakat dan minat. Jika ditanya mana yang harus didahulukan maka jawabnya adalah minat, individu tidak jarang memilih melakukan dan fokus pada hal yang mereka sukai padahal tidak berbakat disana.
Jika kita mengutamakan minat maka terdapat potensi gagal yang besar disana karena memang bukan keahlian juga bisa jadi muncul keputusasaan akibat gagal yang berulang. Tapi jika ia mengoptimalkan bakat dan potensi yang ada dalam dirinya maka sekalipun pada awalnya belum begitu minat, tapi ketika hasil yang di dapat maksimal pasti lama kelamaan akan ada keterikan dan minat yang semakin besar muncul disana. Ketika keduanya muncul maka pekerjaan yang dilakukan pasti akan baerhasil baik dan dikerjakan dengan senag hati.
Beruntungnya Neil mengenali betul dirinya, mengenai bakat dan minatnya. Namun masalah lain muncul yakni ketidak beranianya menyampaikan kehendaknya secara baik-baik terhadap ayahnya. Ketakutan terhadap respon yang akan di berikan orangtuanya. Apalagi komunikasi di antara keduanya yang nampaknya sudah terlanjur tidak harmonis.
Lalu apakah yang harus dilakukan jika semua yang terjadi sudah sulit untuk dibalikan kembali. Seperti saya yang akhirnya sudah terlambat sadar untuk bersungguh-sungguh berusaha mecapai sesuatu yang pernah saya targetkan, atau Neil yang sepertinya sudah sangat tertutup jalanya untuk lanjut di dunia peran.
Saya percaya bahwa setiap doa pasti akan allah kabulkan, dan jika apa yang diminta ternyata tidak kita dapat, maka pandai-pandailah menunggu atau mencari karena pasti hal itu allah telah gantikan dengan sesuatu yang lebih baik dari yang diminta.
Orang-orang berkata bahwa hidup ini adalah pilihan. Iya itu mungkin benar atau mungkin sangat benar. Walaupun pilihan yang diberipun bukan selalu seperti yang kita suka, pun terkadang sesuatu terjadi tanpa bertanya kita setuju atau tidak, tetapi tetap harus kita jalani. Itulah yang sidebut ketentuan. Dan menurut saya yang namanya ketentuan bisa datang dimana dan kapan saja. Jika dengan itu kita merasa diberatkan dan tak diberi pilihan, justru ketika itulah pilihan baru muncul. Pilihan pertama selami ketentuanya dan temukan mutiara didalamnya dan pilihan kedua tetap berontak dan berakhir sia-sia. Cobalah mensyukuri dan Insya Allah akan menambah nikmatnya.