Nama: Eka F. P. Adhitiah
NIM: 1501015036
6
September 2016
Paksaan
Ketentuan dan Pilihan
Salah satu tahap
yang juga merupakan tahap teratas bagi kebutuhan dasar hidup manusia dalam
hirarki Abraham Maslow adalah kemampuan mengaktualisasikan diri. Dan manurut
saya kemampuan menentukan cita dan tujuan hidup pasti ada di dalamnya.
Beberapa waktu
lalu saya dan beberpa teman menonton film berjudul “DEAD POETS SOCIETY” film itu menceritakan tentang kehidupan sosial
remaja putra yang disempitkan ke dalam sebuah lingkungan sekolah.
Gejolak-gejolak
remaja begitu terasa digambarkan di sana. Ketika bagaimana akhirnya pilihan
baru untuk menjalani hidup muncul. Neil dan kawan-kawan di ceritakan sebagai
siswa dari sebuah SLTA bergengengsi, yang sehari harinya hidup dengan
aturan-aturan mengikat serta sugesti keluarga bahwa itu adalah jalan terbaik
untuk mencapai hidup yang bahagia.
Sampai suatu
ketika datang seorang guru sastra inggris yang oleh mereka di sapa Mr. Keating.
Sesuatu yang aneh namun tampak menyenangkan mereka temukan dalam lagak dan
keseharian Mr. Keating. Sehingga hasrat kebebasan, dorongan mencoba hal baru,
serta kecenderungan remaja putra seusia merekapun muncul dan timbul semakin
kuat.
Hari-hari berlalu
dan beberapa tindakan yang akhirnya di lakukan Neil dan kawan-kawanpun
mendatangkan masalah. Baik gesekan internal dari dalam diri sendiri tentang
keinginan hati dan beban kepercayaan orangtua, serta eksternal dari paksaan keluarga juga aturan
sekolah.
Masalah semacam
ini sebenarnya sangat ramah dan dekat dengan kehidupan sehari-hari kita.
Seperti jika berkaca pada tokoh Neil di film itu. Ia berminat dan memiliki
bakat di dunia bermain peran tetapi di paksa menjadi dokter dan tidak memiliki
keberanian mengkomunikasikan secara positif penolakannya dengan orangtua.
Sehingga merasa hidupnya tak di beri pilihan.
Pada masa-masa
seperti inilah remaja mengalami yang namanya krisis identitas, dimana individu
mengalami kebingungan dalam mentukan cita-cita dan tujuan hidupnya. Saya
pribadi adalah salah satu orang yang merasa begitu kecewa dan prihatin ketika
ada anak seumuran 16-18 tahun atau pada tahap remaja akhir tetapi masih tidak
tau cita-citanya apa.
Ada tiga hal yang
paling berpengaruh terhadap krisis identitas, antara lain bagaimana individu
itu dibesarkan, apa yang sering ia perhatikan, dan nilai-nilai yang sering ia
terima. Ya kurang lebih lingkungan sangatlah mempengaruhi seseorang. Namun
kembali lagi, pada dasarnya manusia memiliki kemampuan beraktualisasi dan
sebagai bentuknya harusnya ia mampu memaknai lingkungan dengan tepat, dibantu
oleh manusia-manusai dewasa di sekitarnya khusunya orangtua.
Krisis
identitaspun juga dapat terjadi akibat gagal pahamnya individu mengenai urgensi
antara bakat dan minat. Jika ditanya mana yang harus didahulukan maka jawabnya
adalah minat, individu tidak jarang memilih melakukan dan fokus pada hal yang
mereka sukai padahal tidak berbakat disana.
Jika kita
mengutamakan minat maka terdapat potensi gagal yang besar disana karena memang
bukan keahlian juga bisa jadi muncul keputusasaan akibat gagal yang berulang.
Tapi jika ia mengoptimalkan bakat dan potensi yang ada dalam dirinya maka
sekalipun pada awalnya belum begitu minat, tapi ketika hasil yang di dapat
maksimal pasti lama kelamaan akan ada keterikan dan minat yang semakin besar
muncul disana. Ketika keduanya muncul maka pekerjaan yang dilakukan pasti akan
baerhasil baik dan dikerjakan dengan senag hati.
Beruntungnya Neil
mengenali betul dirinya, mengenai bakat dan minatnya. Namun masalah lain muncul
yakni ketidak beranianya menyampaikan kehendaknya secara baik-baik terhadap
ayahnya. Ketakutan terhadap respon yang akan di berikan orangtuanya. Apalagi
komunikasi di antara keduanya yang nampaknya sudah terlanjur tidak harmonis.
Lalu apakah yang
harus dilakukan jika semua yang terjadi sudah sulit untuk dibalikan kembali.
Seperti saya yang akhirnya sudah terlambat sadar untuk bersungguh-sungguh
berusaha mecapai sesuatu yang pernah saya targetkan, atau Neil yang sepertinya
sudah sangat tertutup jalanya untuk lanjut di dunia peran.
Saya percaya bahwa
setiap doa pasti akan allah kabulkan, dan jika apa yang diminta ternyata tidak
kita dapat, maka pandai-pandailah menunggu atau mencari karena pasti hal itu
allah telah gantikan dengan sesuatu yang lebih baik dari yang diminta.
Orang-orang
berkata bahwa hidup ini adalah pilihan. Iya itu mungkin benar atau mungkin
sangat benar. Walaupun pilihan yang diberipun bukan selalu seperti yang kita
suka, pun terkadang sesuatu terjadi tanpa bertanya kita setuju atau tidak,
tetapi tetap harus kita jalani. Itulah yang sidebut ketentuan. Dan menurut saya
yang namanya ketentuan bisa datang dimana dan kapan saja. Jika dengan itu kita
merasa diberatkan dan tak diberi pilihan, justru ketika itulah pilihan baru
muncul. Pilihan pertama selami ketentuanya dan temukan mutiara didalamnya dan
pilihan kedua tetap berontak dan berakhir sia-sia. Cobalah mensyukuri dan Insya
Allah akan menambah nikmatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar