Nama Lilis Nurhasnaah
PENULIS PENCURI TAHTA
Oleh Lilis Nurhasanah
22 Desemper 2016
Assalamualaikum perkenalkan nama
saya si pectah. Penulis pencuri tahta. Yang tak memandang jabatan dan tidak tau
jabatan saya. Yang saya tau hanya rakyat biasa yang berfikir seobjektif mungkin
kepada para petinggi setinggi tiang bendera yang harus selalu di hormati.
Saya hanya rakyat biasa yang
ingin memiliki keadian yang seadil-adilnya bukan hanya sekedar menghargai
seseorang yang gak tau udah melakukan apa untuk rakyat seperti kita. Yang
cari-cari saya ketika ada maunya dan ditinggalkan kalau gak dibutuhin, dan di
ketawain layaknya pentas badut, di kasih tepuk tangan palsu saat melakukan hal
terbaik.
Saya masih sadar, dan saya akui
bahwa tingkat kesadaran saya kritis pada saat itu, entahlah pake otak kiri
maupun otak kanan yang penting saya merasa bahwa saya sadar, tatapan mata si
petinggi saat bertemu dengan lingkungan tempat tinggal rakyat seperti saya itu,
kayaknya jijik seperti lihat kotorannya sendiri, sehingga digusur lalu diganti
oleh gedung-gedung sipancakar langit, yang dikait oleh ton-ton besar, sebesar
utang Indonesia.
Maunya di hargain, seperti udah
lunasin utang Indonesia, kaya yang udah ngusir penjajah dan si bendera arit dan
parang dari negeri tercinta. Padahal aslinya masih dijajah. Kalau bicara, seperti
bawa samurai ngebunuh orang-orang dengan kata-kata.
Wibawanya
terasa, saat upacara dengan membawa teks supaya tidak lupa. Karena lidah tak
bertulang mampu mengiris hati menjadi luka. Saat kampanye dimana mana, penduduk
terlihat sampe duduk duduk mencium tangan si caleg.
Terakhir
saya hanya ingin semua para penguasa sadar dimanapun mereka berkuasa saat ini.
Bukan untuk kepentingan saya sendiri tapi untuk negeri ini yang katanya kolam
susu, tongkat dan kayu bisa jadi tanaman. Kalimat itu mengibaratkan Indonesia
memiliki tanah yang subur membuat
pribumi ingin selalu tinggal bukan malah ingin tinggal di tetangga yang
gak ada hutannya.
Begitupun
degan saya, sebagai rakyat biasa pasti akan selalu melakukan hal terbaik untuk
saudara semanusia, terlebih kepada Negara Indonesia dengan menjadi warga yang
patuh akan pancasila dan UUD 45.
Hidup
Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia
Terimakasih.
Billahifisabillilhaq fastabiqul khoirot. Wassalamualaikum warrohmatullahi
wabarokatuh..