|
“PENGABIAN
ABADI SANG GURU TIADA HENTI”
Oleh
Lilis Nurhasanah
Juni
30 2018
Pendidikan
merupakan harta yang di timbun, yang sengaja diberikan untuk anak bangsa yang
nantinya akan cerah seperti cahaya untuk masa depannya. Dalam sebuah
pembelajaran tidak terlepas dari seorang guru yang gigih dan terus bercahaya
seperti matahari tak harap kebali asalkan muridnya sampai kepada
cita-citanya. Harapan itu muncul ketika ada sebuah kesempatan dan keberanian
mengambil resiko. Suatu saat akan bertepi pada kebahagiaan dan kesuksesan
untuk Indonesia di masa depan. Kemudian akan dilanjutkan oleh pemuda masa
kini yang berani dan bertanggungjawab.
Selanjutnya, Keadaan Indonesia yang tidak terlepas dari unsur-unsur
adat istiadat, kebudayaan dan keagamaan yang menjadikan beragam dan
bersuku-suku namun tetap satu tujuan ini, yang harusnya melekat pada
masyarakat terlebih kepada anak muda yang semangatnya sedang berapi-api.
Pada hari ini,
keadaaan teknologi mempengaruhi pendidikan sangat memudahkan akses belajar
untuk kalangan yang muda maupun yang tua dengan menggunakan telefon pintar
semuanya serba cepat dan mudah. Namun bukan malah menjadikan diri
berleh-leha, dengan adanya suatu teknologi justru hurusnya kualitas diri
berkembang. Dengan mudahnya akses informasi dan kecanggihan untuk mengolah
data, sehingga orang yang tidak bersekolahpun bertambah keterampilannya atau
hal-hal positif lainnya, maka dari itu siapapun bisa menjadi guru.
|
Permasalahan
pendidikan di Indonesia tidak akan selesai jika hanya ditutupi oleh isu perpolitikan
yang sedang hangat dibicarakan atau permasalahan-permasalahan lainnya. Tentu
saja semuanya penting, namun penulis saat ini sedang membicarakan urgensi
pendidikan yang harusnya bisa saja
segera untuk dibantu oleh pemerintahan atau bahkan oleh rakyat Indonesia
sendiri. Harus mengakui bahwa pemerataan pendidikan di negera ini belum
mencapai kata “merata” atau sempurna, alasannya selalu karena Indonesia luas
wilayahnya jadi kesulitan akses menuju ruang terpencil. Padahal daerah
terpencil juga merupakan masih bernegara Indonesia jadi itu tidak bisa
dijadikan sebagai alasan. Hak atas pendidikan bagi setiap manuisa adalah
penting tidak terkecuali, lalu diimbangi dengan fasilitas yang memadai dan
pengajar yang professional yaitu yang hatinya dan jiwanya besar untuk mengabdi.
Maka akses untuk menapatkan beasiswapun harusnya merata dan diberikan kepada
orang yang tepat sasaran, agar orang-orang yang berpotensi tidak diabaikan
begitu saja. Kemudian penulis yakin bahwa setiap orang memiliki cita-cita tidak
hanya untuk diri dan keluarganya tapi untuk masa depan Indonesiapun selalu
terpikirkan dalam lamunan pemuda yang tau cara berterimakasih untuk negaranya
setidaknya pasti terlintas untuk berbuat sesuatu untuk negaranya. Maka dengan
ajang kegiatan pengambidan masyarakat ini sangat membantu bagi kalangan pemuda
untuk berjuang dan terjun langsung merasakan membantu anak bangsa mewujudkan
atau sebagai motivasi untuk anak bangsa lainnya agar terus mempunyai cita-cita.
